Download disini
Solo – Pura Mangkunegaran Malam tadi (20/5) menggelar Performing art yaitu pentas budaya khas adiluhung Dinasti Mangkunegaran, acara dimulai kira-kira pukul 20.00 WIB, diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang digemakan secara khitmad oleh setiap yang hadir dalam acara ini. Tidak hanya warga Solo yang tampak hadir pada acara art ini, bahkan tampak beberapa orang dari mancanegara ikut menonton semarak Mangkunegaran Performing arts malam tadi yang dibuka secara resmi oleh wakil dari bapak Wali Kota Solo serta Gusti Pangeran Haryo (GPH) Herwasto Kusumo selaku tuan rumah acara tersebut.
Gemuruh tepuk tangan seluruh yang hadir menambahkan gaung akan eksistensi kegiatan Mangkunegaran Performing art tersebut. Antusiasme Penonton yang mengitari Pendapi Gede Mangkunegaran sangatlah luar biasa, hal itu terlihat dari banyaknya penonton yang mengabadikan momen tersebut dengan foto, shooting, video dan sebagainya. MC membacakan susunan sajian Performing art ini, yaitu sajian pertama adalah Tari Gambyong Pareanom Mangkunegaran, selanjutnya Tari Serimpi Pandelori, yang ketiga Wireng Narayana - Kalakresna, dan sajian terakhir sebuah tari garapan (modifikasi) dengan nama Tari Bregodo Pareanom.
Acara hebat di Mangkunegaran ini dimulai dengan pemanggilan penari oleh MC Performing art yaitu tampilan pertama persembahan khas Mangkunegaran yaitu Tari Gambyong Pareanom Mangkunegaran. Gambyong Pareanom merupakan tarian penyambutan tamu dan berkembang menjadi tarian hiburan. Dan untuk Gambyong Pareanom mangkunegaran telah diwirengkan sehingga kostum tidak memakai kemben mekak dengan memakai jamang. Untuk warna kostum sesuai dengan namanya Pareanom adalah hijau kuning. Tari ini berkembang pada masa pemerintahan Mangkunagoro VII. Sajian oleh 7 Penari putrid dari Langenpraja Pura Mangkunegaran. Berikut adalah gambar yang kang Deni shoot untuk menggambarkan Tari Gambyong Pareanom:
Semarak tepuk tangan mengiringi 7 penari “jengkar” (red: meninggalkan) dari arena penampilan. kemudian MC memangiil penyaji tari selanjutnya, yang berjumlah 4 orang wanita anggun dengan senjata keris di depan stagen tepat diperut mereka. Bagaimana sebenarnya tari yang tersaji untuk kedua ini, inilah tari Srimpi Pandelori. Tari ini berkembang di Puro Mangkunegaran pada Pemerintahan Sri Paduka Mangkunagoro V.
Beksan Srimpi Pandelori menceritakan peperangan sang Dyah Sirtupelaheli Putri dari Sri Karsinah yang sedang naik burung garuda melayang diangkasa mencari keberadaan suaminya sang Ambyah yang dipenjara oleh Prabu Kanyun di Parangakik. Di Kerajaan Parangakik adik dari raja ParangAkik bernama Kusuma Sudarawerti ingin menolong mengeluarkan sang Ambyah dari penjara walaupun ditentang kakaknya namun ia berusaha sekuat tenaga karena dalam mimpi Sudaraweri merasa ada wangsit bahwa sang Ambyah akan menjadi suaminya. Selanjutnya memang terjadi pernikahan itu setelah sang Ambyah dikeluarkan dari penjara. Dan ketika sang Dyah Sirtupelaheli bertemu dengan kusuma sudarawerti terjadilah peperangan itu. Karena semua tidak ada yang terkalahkan akhirnya semua mengakui dan menyetujui untuk berdamai dan menerima sang Ambyah menjadi suaminya bersama.
Sajian yang selanjutnya yang ketiga adalah Tari Khas mangku negaran, dan beda dari tari-tari sebelumnya. karena
apa? karena yang menari adalah laki-laki, kalo sebelumnya adalah wanita. sekarang yang menyajikan adalah dua lelaki gagah. Judul Tarinya adalah Wireng Narayana – Kalakresna atau bisa disebut juga Wirog Mandra Kesowo Menceritakan pada saat Narayana melamar Dewi Rukmini. Dewi rukmini mau diperistri Narayana dengan syarat Narayana harus menjadi seorang raja. Kemudian Narayana meminta saran gurunya yaitu Bengawan Patmonobo dan disarankan untuk melawan Prabu Kalakresna dari kerajaan Dworowati. Begawan Patmonobo memberikan sebuah senjata kepada Narayana berupa busur panah bernama Kesowo untuk melawan Prabu Kalakresna. Akhirnya terjadilah peperangan antara Narayana dan Prabu Kalakresna yang dimenangkan Narayana. Pada Saat Kemenangan Narayana, turunlah bethara Narada, Narayana disuruh memakai mahkota Prabu Kalakresna dan diberi nama prabu kresno dan menjadi raja di kerajaan Dwarawati dengan permaisuri Dewi Rukmini. Tarian ini diciptakan langsung oleh Pangeran Mangkunegaran yang sekarang yaitu GPH Herwasto Kusumo.
Akhirnya Tiba Juga di sajian yang terakhir, dengan disambut tepuk tangan meriah dari penonton. rombongan tari
garapan bapak Winarto, S.Sn, S.Pd memasuki arena penampilan yaitu pendapi gede Mangkunegaran. Tari nya berjudul Bregodo Pareanom. Bregodo Pareanom adalah sebuah simbol prajurit atau pasukan perang wanita yang disebut “SINELIR” yang merupakan hasil panggulo wenthah Raden Mas Said dan Matah Ati dengan cirikhas busana “Kuning Hijau”. Sebuah karya tari tentang spirit yang ditafsirkan bebas. Saling membantu dan dibantu saling memberi dan menerima dan saling dilengkapi dalam sebuah tambang yang dilantunkan dalam benih-benih mutiara kehidupan yang menggambarkan “LAKU” Raden Mas Said dalam upaya mewujudkan cita-cita luhur untuk menuju tatanan yang lebih baik. Salut buat tari garapan yang satu ini, karena karya yang luar biasa ini mencerminkan kota SOLO yang membranding namanya “SOLO Kutho Budaya”.
Dengan berakhirnya sajian ke-empat, maka berakhir pula acara “Mangkunegaran Performing Arts” untu hari pertama, karena ternyata nanti malam (21/5) masih ada lagi untuk yang hari kedua. Bagi yang belum sempat nonton tadi malem, buruan persiapkan diri mulai sore ini untuk berbondong-bondong menuju Mangkunegaran. Bakal rugi kalau tidak nonton acara Eksotis ini. Sukses untuk Mangkunegaran Performing Arts dan akan semakin berkilau Eksistensinya.
























Recent Comments